
mungkin sedikit terlambat untuk memberi komen mengenai hafalan shalat delisa the movie ini.
waktu denger kabarnya bakalan di filemkan, aku langsung posting ke Facebook. saking senangnya. ini bakalan hadiah untuk liburan semester kali ini. Dan berjanji akan nonton filemnya kalau udah balik ke indonesia.
setelah nonton itu, sebenarnya emang udah kecewa. tapi, aku malas untuk ngebahasnya.
Pas nyampe ke malaysia (lagi!) temen-temenku yg org malaysia secara nggak sengaja ngomongin tentang delisa the movie, yang udah masuk di layar TV malaysia, Astro. dia bilang, filemnya bagus banget. serius, aku kaget denger komennya! mungkin pendapat temenku ini dapat mewakili semua orang yang nonton filemnya tanpa baca novelnya terlebih dahulu.
nah, kenapa aku pengen ngebahas filem ini? abis gemes banget ngedengar komen temenku. menurutku gak adil menilai filemnya tanpa membaca novelnya terlebih dahulu. soalnya menurut aku, novel delisa jauuuuuuuh lebih 'real' daripada filemnya. permainan kata-kata oleh sang penulis, berhasil membawa saya ke setiap adegan yang di deskripsikan olehnya. betul-betul seperti terbawa ke alam imajinasi yang dibuat oleh penulisnya.
maaf sebelumnya, kalau komentar ini menyinggung pihak-pihak tertentu. ini bukan untuk menjatuhkan rating filem ini, tapi hanya sekedar bentuk kekecewaan dengan filemnya.
ketika aku nonton filemnya. (maaf) aku cuman bisa pasang wajah datar. gak ada klimaks, bahkan pas adegan tsunaminya. seharusnya di adegan tersebut, sang produser bisa mendramatisirnya, agar dapat membawa perasaan penonton ikut terhanyut dengan gelombang tsunami yang begitu dahsyat tersebut. walaupun aku tahu akan sangat susah untuk membuat adegan tsunami.
satu hal lagi yang sangat mengecewakan adalah ada banyak deskripsi yang dihilangkan dalam filemnya.
misalnya saja, delisa yang di dalam novelnya digambarkan sebagai anak yang lucu, berambut ikal dan pirang, dan bermata hijau. delisa sangat lucu dan menggemaskan karena penampilannya yang mirip bule, dan berbeda dengan anak lhok ngah lainnya.
sedangkan di filemnya, penampilan delisa nampak tidak jauh berbeda dengan anak-anak lainnya. memiliki mata yang hitam, rambut lurus, dan kulit yang sedikit gelap. jujur, tidak menggemaskan seperti yang aku bayangkan. padahal khan, dalam realitasnya Chantiq ( pemeran delisa) memang anak keturunan indo. kenapa malah di make-up seperti anak lhok ngah lainnya
| foto chantiq yang seperti ini, nampaknya lebih natural untuk peran delisa. |
sang produser filem, tidak berhasil membuat 'sentuhan' pada filem ini, bahkan menurutku dia lebih banyak menghilangkan adegan yang seharusnya ditampilkan. produser juga tidak memberikan fokus kepada adegan-adegan tertentu. sehingga, filem ini berhasil membuat saya memasang wajah datar sepanjang filem ini. dan berkata,' mana adegan yang paling menyentuhnya??'
'apa saya telah melewatkannya?' atau mungkin produsernya yang sengaja meng-skip adegan-adegan yang kutunggu-tunggu. itu yang kufikirkan setelah nonton filemnya secara keseluruhan.
coba liat gambar diatas. gambar ini ketika delisa terdampar setelah hanyut dibawa gelombang tsunami. adakah sang produser lupa, bahawa gelombang tsunami itu sangat dahsyat, sehingga para korban-korban tsunami itu mengalami luka-luka yang begitu serius? adegan ini, seharusnya lebih menggambarkan wajah delisa yang terhantam oleh benda-benda keras, sehingga membuat mukanya tidak semulus pada adegan tersebut. ini akan membuat adegan ini terlihat lebih natural. untuk adegan yang dashyat seperti, saya rasa sangat sulit mendapatkan korban semulus wajah delisa ini.
" delisa tidak bisa bergerak, kaki kanannya hingga betis sempurna terjepit di sela-sela dahan semak."
"muka delisa biru lebam, sekujur tubuhnya juga penuh baret dan luka, sisa guratan pohon kelapa, ranting-ranting pohon lainnya, benda-benda yang menghantam tubuhnya sepenajang terseret gelombang tsunami, juga semak-semak yang sekarang mencengkeram kaki kanannya."
nah, bagi yang belum baca novelnya. ini adalah kondisi yang digambarkan oleh tere liye, sang penulis, dalam novelnya. begitu jelas, dan begitu real, khan?
kalau kalian memperhatikan filem ini, kalian akan mendapati bahawa adegan setelah tsunami, nampak hanya berada di satu atau dua lokasi saja. nampaknya produser banyak melakukan minimalis di sana-sini dan bercerita sangat tidak mendetail. pokoknya filem ini datar.
endingnya lebih parah. setelah nonton dari awal sampai menjelang akhir, aku berharap endingnya, bisa ngebuat aku meneteskan airmata. soalnya dalam novelnya begitu menyentuh. dalam novelnya, delisa menemukan mayat ummi-nya di seberang sungai, ketika selesai shalat ashar. dari seberang sungai itu, delisa sebenanrya hampir tidak mengenali mayat yang berada di semak belukar, hanya saja kalung yang berinsial namanya itu terlihat begitu bercahaya, seakan-akan memberikan pertanda bahawa itulah umminya.
oke, saya akan mengutip dari novel aslinya untuk adegan tersebut.
"kalung itu ternyata bukan tersangkut di dedahanan. tidak juga tersangkut di dedaunan. tetapi kalung itu tersangkut di tangan. tangan yang sudah menjadi kerangka. sempurna kerangka manusia. putih. tulang-belulang. utuh. bersandarkan semak belukar tersebut.
"U-m-m-i...."
delisa mendesis lemah, lantas detik berikutnya, jatuh terjerambab ke dalam sejuknya air sungai. delisa buncah oleh sejuta perasaan itu. delisa"
ini adalah kutipan asli daripada novelnya. yang bahkan pada saat menulis ini pun, saya begitu terharu dan sempat merinding.
dan coba bandingkan dengan filemnya (?).
aku kembali kecewa. bayangkan, mayat yang terombang-ambing oleh gelombang tsunami, masih terlihat utuh ketika didapati 3 bulan kemudian. padahal, dalam novelnya, delisa hanya dapat mengenali mayat umminya, karena mayat yang tinggal kerangka tulang itu memegang kalung berinisial nama delisa.
adakah sang produser tidak membaca adegan ini? atau ini adalah improvisasi dari sang produser sendiri?
soalnya, deskripsi di novel jauh berbeda dengan yang di filemnya.
mungkin sang produser tidak melakukan banyak observasi mengenai kejadian ini, sehingga filem ini tidak detail.
intinya, novel delisa lebih membawa emosi kepada pembacanya. begitu detail dan klimaks. untuk beberapa adegan, aku bahkan sempat menyeka airmata. saya lebih suka membayangkannya daripada harus menonton visualnya.
maaf sekali lagi, kalau misalnya ada hal yang tidak menyenangkan dalam kritikan ini. saya hanya kecewa dengan filemnya. saya juga men-suggest untuk membaca novelnya, sehingga dapat membandingkan secara langsung antara novel dan filemnya.
sekian dan terima kasiiiih....
:)

